Search Blog

Translate

SPONSOR

Showing posts with label Keagamaan (Religious). Show all posts
Showing posts with label Keagamaan (Religious). Show all posts

Friday, December 16, 2016

WARISAN RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM


By : Andi Agus Mumang, S.KM

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut, sungguh mereka telah mengambil bagian yang banyak." (HR Tirmidzi)

Hadist ini menjelaskan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki warisan namun warisan beliau bukan sebagaimana yang umumnya manusia kenal yakni berupa dirham dan dinar (kekayaan materi). Namun, warisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ilmu. Warisan Rasulullah ini adalah warisan yang abadi dan kekal dan pemilik dari warisan ini adalah orang-orang yang beruntung. Ilmu tidak akan pernah berkurang, meskipun ia dibagi atau diberikan dimanapun dan kapanpun itu. Bahkan ilmu akan senantiasa bertambah ketika ia dibagikan. Beda halnya dengan harta yang hanya akan berkurang makala kita membagikannya kepada orang lain. Berkata Imam Ali bi Abi Thalib bahwasanya beliau lebih mendahulukan ilmu dibandingkan dengan harta karena dua sebab yakni ilmu itu menjaga kita sementara harta kita yang menjaganya dan harta jika dibagikan berkurang sementara ilmu jika dibagikan akan senatiasa bertambah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah salah menitipkan warisan kepada ummatnya. Warisan itu adalah warisan yang akan senantiasa menjadi jalan penerang bagi ummatnya agar senantiasa berada diatas jalan petunjuk yang lurus, menjadikan yang memilikinya senantiasa bersikap zuhud dan tawadhu', tidak menjadikannya tamak dan rakus, menjadikan pemiliknya senantiasa dihiasa dengan kemuliaan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Bahkan warisan Rasulullah ini menjadi sebab dimudahkannya jalan seseorang untuk masuk kedalam surga Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari/menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga" (HR Muslim)

Sungguh orang-orang yang menganggap sepele warisan Rasulullah, enggan untuk mengambilnya maka sungguh ia telah menjadi orang yang sangat merugi. Bahkan barangsiapa yang tidak mengambil suatu warisan dari yang mewariskannya maka ia dengan yang mewariskan tidaklah mempunyai hubungan. Rasulullah pernah bersabda :

"Rasulullah berkata : 'Sesungguhnya aku merindukan keluarga-keluarga ku sepeninggalku'. Sahabat kemudian bertanya : 'Bukankah kami ini keluarga-keluarga mu wahai Rasulullah?' Rasulullah menjawab: 'Kalian bukanlah keluargaku melainkan sahabat-sahabatku. Sedangkan mereka yang dimaksud keluarga ku adalah orang-orang yang sepeninggal ku yang mereka tidak pernah bertemu dengan ku, tapi mereka mengamalkan apa-apa yang aku tinggalkan padanya'"

Maka jelaslah, bahwa mereka yang tidak mau mengambil warisan tersebut kemudian mengamalkannya, maka mereka bukanlah keluarga-keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh, jika kita bertanya tentang kemiskinan hakiki, maka jawabannya: "kemiskinan hakiki adalah kemiskinan akan ilmu". Sedangkan Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan akan ilmu. Kekayaan yang dimuat didalam hati mereka yang berilmu hanyalah kekayaan akhirat. Demikianlah warisan Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mewariskan Ilmu sebagai warisan yang kekal dan akan mengantarkan pemiliknya menuju kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan akhirat.*)

ADA APA DENGAN HATI?



By : Andi Agus Mumang, S.KM

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata : 

"Butuhnya hati terhadap ilmu sama dengan butuhnya dunia terhadap air"

Kenapa "Hati" ?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda :

"Ketahuilah bahwasanya dalam tubuh terdapat segumpal daging, Kalau ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, kalau ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati"

Abu hurairah radiyallahu 'anhu berkata bahwa :

"Sungguh hati ibarat seorang Raja dan anggota badan adalah pasukannya. Kalau sang Raja baik maka baiklah seluruh pasukannya. Kalau sang Raja buruk, maka buruklah seluruh pasukannya."

Kedudukan Hati pada diri seseorang amatlah penting. Hati-lah yang menjadi penentu baik tidak-nya seseorang. Karena kedudukan hati pada diri seseorang sangatlah penting, maka sangatlah perlu untuk menjaganya. Menjaga hati adalah dengan Ilmu. Hati sangatlah butuh terhadap ilmu, bahkan kebutuhannya melebihi kebutuhan dunia terhadap air. Jika dibayangkan, apa yang terjadi jika dunia tanpa air? Bagaimana dengan kehidupan dunia? Tentunya, tak ada kehidupan yang berlangsung jika di dunia ini tidak air. Begitu juga dengan Hati. Tanpa ilmu, maka hati akan terasa hampa dan mati. Jika hati seseorang telah mati (kosong) dengan ilmu maka jasadnya pun akan merasakan kematian itu. Olehnya, itu hati yang tidak terisi dengan ilmu, maka jasad yang membawa hati seperti itu laksana mayat hidup. Mereka terlihat hidup, namun sesungguhnya mereka mati.


Hati memuat apa yang disebut sebagai keimanan dan ketaqwaan.  Keimanan adalah apa yang tertanam dalam hati seseorang. Begitu pula dengan ketaqwaan. Berkata Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah bahwasanya ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan yang berasal dari dalam hati. Hati-lah yang menjadi muatan iman dan taqwa yang hakiki. Adapun apa yang nampak pada anggota badan (jasad) seseorang adalah pengejawantahan dari apa yang berasal dari hati seseorang. 

Bahkan amalan hati adalah amalan yang lebih wajib dan pokok ketimbang amalan anggota badan. Berkata Imam Hasan Al Basri rahimahullah :

"Bukanlah keimanan itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau dengan berangan-angan akan tetapi iman adalah apa yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amalan"

Mutarrif bin Abdillah berkata :

"Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan, baiknya amalan adalah dengan baiknya hati"

Demikianlah, pentingnya kita menjaga hati. Menjaganya adalah dengan senantiasa menghiasinya dengan Ilmu. Hati yang berilmu adalah hati yang hidup dan senantiasa akan menjadi penopang baiknya amalan anggota badan (jasad) seseorang. Wallahu a'lam.*)


Thursday, December 15, 2016

BERKATA TENTANG ALLAH TANPA PENGETAHUAN : SESATKAH?


By: Andi Agus Mumang, S.KM
Kaidah kesesatan adalah dengan mengatakan tentang Allah tanpa pengetahuan.

Penjelasan :

Kaidah umum kesesatan berkata tentang Allah tanpa pengetahuan (mengada-ada terhadap Allah). Berkata tentang Allah tanpa pengetahuan, maka dosanya lebih besar daripada syirik, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui(QS Al-A’raf: 33)

Berkata tentang Allah dengan mengada-ada (tanpa pengetahuan/tanpa hujjah) lebih berat dosanya daripada berbuat syirik kepada Allah. Maka jelas bahwa hal tersebut sangat tidak diperkenankan bagi seseorang terutama seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dengan ikhlas. Beberapa diantara perkara mengada-ada terhadap Allah adalah seperti mengatakan bahwa Allah mengharamkan ini dan menghalalkan itu, atau mengatakan bahwa Allah mensyariatkan ini dan tidak mensyariatkan itu tanpa adanya hujjah yang nyata atau tanpa dilandasi oleh ilmu pengetahuan yang benar dan lurus. Perbuatan seperti ini sama halnya mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala , sebagaimana dalam firman-Nya, Dia menjelaskan :

Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat –buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran yang datang kepadanya? Bukankah di Neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang kafir? ” (QS Qz-Zukhruf: 32)

Ayat diatas jelas menunjukkan kepada kita larangan berkata tentang Allah tanpa pengetahuan (mengada-ada persoalan Allah/berdusta terhadap Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanyakan kepada beliau tentang suatu perkara, sedang perkara tersebut belum diwahyukan oleh Allah penjelasannya, maka beliau menangguhkan menjawab perihal perkara tersebut hingga datang wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lantas, bagaimana kita sebagai orang yang bukan Nabi dan juga bukan Rasul? Seorang yang berilmu akan selalu berhati-hati dalam setiap ucapannya. Dia tidak gegabah dalam berkomentar pada setiap perkara yang ia belum sempat ketahui. Bahkan ketika ia mendapati ketidakjelasan pada suatu masalah dan belum sempat menemukan dalil yang sesuai baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah maka ia akan berkata “Saya tidak tahu”.  Sungguh, inilah kemuliaan seorang yang berilmu dan bukanlah suatu hal yang merendahkannya manakala ia berkata tidak tahu pada perkara yang memang ia tidak punya pengetahuan terhadapnya. Justru hal ini akan menambah kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala disebabkan ia telah menyelamatkan sautu perkara dari fitnah. 

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang 40 masalah, lalu ia menjawab sebagainnnya dan mengatakan terhadap sebagian lainnya, “Saya tidak tahu”.  Lalu yang bertanya kepada beliau berkata,”Saya telah datang dari negeri yang amat jauh, melewati banyak penderitaan dalam perjalanku, namun engkau banyak menjawab pertanyaanku dengan perkataan : saya tidak tahu?” Lalu Imam Malik berkata kepadanya, “Naiklah kendaraanmu, pergilah ke negeri asalmu dan katakanlah kepada penduduk di negerimu bahwa saya bertanya kepada Imam Malik dan dia menjawab : Saya tidak tahu”. Demikianlah sikap seorang yang berilmu. Berkata hanya pada apa yang ia ketahui dan tidak memaksakan pada apa yang ia tidak ketahui. Inilah karekter Ahlul Ilmi yang menunjukkan ketakutannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan inilah sebenarnya sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Apalagi ketika hal tersebut menyangkut perkara yang ghoib, misalnya perkara tentang Allah. Maka, tidak boleh seenak jidadnya kita berpendapat ini dan itu tentang-Nya yang sama sekali tidak ada penjelasannya dalam Al- Qur’an dan As-Sunnah. Persoalan yang ghoib adalah kepunyaan Allah. Maka ketika kita hendak membahas tentang perkara yang ghoib maka harus dalam bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala melalui apa yang dijelaskan-Nya pada firman-firman-Nya dan juga hadist-hadist-Nya. Wallahu a’lam.

Referensi : Kitab Problematika Umat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang di syarah oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah.

Tuesday, December 6, 2016

DOSA-DOSA BESAR (AL- KIBAIR) : PENDAHULUAN

By : Andi Agus Mumang, S.KM

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
in taj’ tanibuu kabaaira ma tunhauna ‘anhu nukaffir ‘ankum sayyiaatikum wa nudkhilkum mudkhalan karimaa (QS An-Nisa : 31)
Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa yang kecil) dan kami akan masukkan kalian kedalam tempat yang mulia (surga)”(QS An-Nisa : 31)
Allah subhanahu wa ta’ala ingin mengabarkan kepada kita bahwa sungguh diantara perbuatan yang dilarang oleh-Nya adalah perbuatan Dosa. Perbuatan dosa ini Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan mempunyai derajat. Diantaranya ada yang memiliki derajat yang besar dan kecil. Allah memerintahkan kepada kita untuk mejauhi perbuatan dosa yang deratnya besar (melakukan perbuatan dosa besar). Dan hal ini merupakan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Semua dosa Allah melarang kepada hamba-Nya untuk mengerjakannya. Namun, yang Allah sangat tekankan adalah jangan mengerjakan dosa yang besar. Bahkan Allah memerintahkan untuk menjauhinya. Sebab, besarnya murka Allah terhadap hal tersebut. 
Selain Allah memerintahkan untuk menjauhinya, Dia juga menjanjikan kepada hamba-Nya berupa pengampunan terhadap dosa-dosanya yang kecil dan lebih dari pada itu, Allah menjanjikan tempat kesudahan yang baik bagi orang-orang yang menjauhi perbuatan dosa besar yakni Surga Allah subhanahu wa ta’ala. Pelajaran yang lain dari ayat ini secara tersirat ingin menjelaskan kepada kita bahwa diantara syarat agar dosa-dosa kecil kita diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Selain itu, diantara tanda-tanda orang yang akan mendapatkan kenikmatan kelak di akhirat adalah mereka yang senantiasa menjauhkan diri mereka dari pekerjaan dosa-dosa besar.
Allah mempertegas hal ini dalam firman Allah yang lainnya :
… wa taj’ziya lladzina ihsanuu bil husna (31). Alladzina taj’tanibuuna kabaairal ismi wal fawaahisya illallamam, Innarabbaka waasi’ul magfirati…(32)” (QS. An-Najm: 31-32)

Berkata Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Dosa-dosa besar adalah semua yang Allah cap dengan neraka atau dengan kemurkaan atau dengan laknat atau dengan siksa-Nya”

Referensi : Terjemahan kitab "Al-Kibair" karya As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

IMAM AT-TIRMIDZI : SEORANG ULAMA HADIST DARI NEGERI TIRMIDZ


By : Andi Agus Mumang, S.KM

Beliau bernama Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dhohak As-Sulami At-Tirmidzi rahimahullahu ta’ala. Kun’yah beliau adalah Abu Isa. Beliau berasal dari Kota bernama “Tirmidz” dibagian utara Iran. Sebenarnya, kakek beliau bukanlah asli orang Tirmidz. Namun, beliau berasal dari Kota Mirwaz. Imam At-Tirmidzi lahir pada tahun 209 H. Sejak kecil, beliau sudah senang mempelajari ilmu, bahkan beliau melakukan pengembaraan (rihlah) keberbagai negara untuk mencari dan mempelajari ilmu. Beberapa Negara yang pernah didatangi beliau adalah Hijaz, Iraq, dan Khurasan. Dalam pengembaraannya, beliau bertemu dengan guru-gurunya. Beliau belajar dan menghafal dari mereka dan bahkan menuliskan kitabnya sendiri dari hasil belajarnya tersebut. Diantara nama-nama guru beliau adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Utaibah bin Sail, dan Muhammad bin Basyar. Muhammad bin Basyar juga pernah menjadi guru Imam Bukhari. Selain guru, beliau juga memiliki murid diantaranya Makhlul bin Al Fadhl, Hammad bin Syakir, Al Haisam bin Khulaib asy-syasyi.

Imam At-Tirmidzi terkenal dengan kekuatan hafalannya, ketakwaannya, dan ketelitiannya dalam menulis hadist. Terkait kekuatan hafalan beliau, dikisahkan melalui sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalany dalam kitabnya “Tahzib at-Tahzib”, diceritakan oleh Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud (cucu Abu Dawud), mendengar bahwasanya abu Isa pernah mengisahkan :

Saya pernah melakukan perjalanan menuju Kota Makkah, dan saya telah menulis dua jilid hadist. Ketika diperjalanan saya bertemu dengan suatu rombongan yang didalamnya kemungkinan ada Syaikh yang pernah dijumpainya. Beliau bertanya : “Apakah ada syaikh itu?” Mereka menjawab : “yang kamu bertanya padanya, itulah syaikh-nya”. Kemudian saya menemuinya dan membawakan hadist sebanyak 2 jilid yang telah saya selesaikan. Namun, ketika saya memeriksa kitab tersebut, ternyata saya salah membawa kitab. Tapi, yang saya bawa adalah yang mirip dengan kitab hadist tersebut. Kemudian saya berkata kepada syaih: “Saya mau mendengarkan hadist darimu dan mencocokkannya pada kitab yang saya tulis (beliau tidak menyampaikan kepada syaikh bahwa ia salah membawa kitab)”. Syaikh pun mengabulkannya. Syaikh kemudian menghafalkan hadist-hadistnya dan saya (seolah-olah) mencocokkannya pada kitab yang saya bawa. Tidak sengaja, Syaikh melihat kitab-ku namun yang dijumpainya adalah sesuatu yang kosong. Maka syaikh menggertak :”Apakah kamu tidak punya malu kepada saya, kamu membawa kitab kosong”. Bukannya kamu hendak mencocokkan kitab tulisanmu dengan hafalan hadistku. Maka saya pun menjelaskan alasanku kepada Syaikh. Saya berkata : “Walaupun hadist yang Syaikh bacakan tidak ada dalam kitab yang saya bawa ini, hadist yang anda sampaikan tadi telah saya hafalkan”. Syaikh menjawab: “Kalau begitu hafalkanlah”. Maka saya pun menghafalkannya. Syaikh bertanya padaku:”Apakah kau sudah menghafalkannya?”. Saya menjawab : “Belum”. Saya meminta kepada Syaikh untuk menambahkan lagi hadist untuk aku hafalkan. Maka Syaikh membaca 40 hadist dari hadist-hadist yang langkah. Kemudian, Syaikh berkata: “Bacakanlah kembali apa yang telah aku sampaikan”. Saya pun membaca ulang hadist tersebut dari awal hingga akhir. Syaikh teperanjat kemudian berkata:”Aku belum pernah melihat orang seperti ini”.

Meskipun beberapa ulama banyak mengkritik karya-karya beliau, tapi mereka tetap mengakui kelebihan yang beliau miliki dari sisi kekuatan ilmu dan hafalan beliau.

Berkata Imam Al Hakim : “Saya mendengar Imam Bukhari meninggal dan tidak ada yang menggantikan yang mirip dengan beliau kecuali Imam At- Tirmidzi”. Pujian ini diberikan kepad Imam At-Tirmidzi oleh sebab kekuatan hafalannya yang mirip dengan Imam Bukhari.

Berkata pula Abu Ya’la : “Beliau adalah seorang penghafal hadist, beliau memiliki kitab sunan dan beliau mahir dalam persoalan Jahr wa ta’dil

Imam At-Tirmidzi menulis kitab yang terkenal dengan nama Sunan At-Tirmidzi/Al Jami At-Tirmidzi. Persoalan nama Sunan ataupun Al Jami ini bisa dipergunakan dua-duanya pada kitab beliau. Disebabkan kitab beliau memiliki keunggulan sebagai kitab yang bermuatan hadist tentang fiqh (Sunan) dan juga memiliki keunggulan dari sisi susunan bab-nya (Al Jami). 

Imam At-Tirmidzi pernah berkata tentang kitabnya :
Barangsiapa yang dirumahnya terdapat kitab ini, maka bagaikan didalam rumahnya itu terdapat Rasulullah

Ulama yang lain pun berkata tentang kitab beliau :
Sebaik-baik kitab, banyak faidahnya, dan sedikit hadist-hadist yang terulang. Keistimewaan kitab ini didalamnya disebutkan didalamnya tekait mahzab-mahzab dan cara-cara mereka beristidlal (berdalil). Selain itu, didalamnya dinilai tentang hadist-hadist dan adanya Jahr wa ta’dil (penilaian dari kedudukan para perawi-perawi hadist)

Selain itu, beliau lah yang mempopulerkan kata hasan dalam istilah penilaian derajat hadist. Walapun, sebenarnya kata hasan ini sudah ada ulama sebelumnya yang menggunakan istilah tersebut. Namun, beliaulah yang kemudian mempopulerkannya.

Selain itu beliau adalah yang menerapkan penilaian hadist dengan istilah Shohih Ghorib, Hasan Shahih, Hasan Ghorib, Hasan Shohih Ghorib.

Beberapa nama dari murid beliau yang meriwayatkan kitab beliau diantaranya Abul Abbas, Abu Said, Abu dzar, Abu Muhammad, Abu Hamid dan Abul Hasan.

Beberapa syarah dari kitab beliau diantaranya adalah Aridhatul Ahwazi karya Al Isybini, Tuhfatul Awwali, dan Kutul Muktazi ala Jami At-Tirmidzi.

Beliau meninggal pada tahun 279 H tepat diusianya yang ke 70 tahun. Beliau saat sebelum meninggal dalam keadaan buta. Terkait butanya beliau ini diperselisihkan oleh ulama (apakah sejak lahirnya atau dimasa akhir-akhir hidupnya). Namun, pendapat yang kuat adalah beliau buta diusianya yang menjelang akhir.

Monday, December 5, 2016

ZUHUD : SEPERTI APAKAH DIA?



by : Andi Agus Mumang, S.KM
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, zuhud adalah :

"tar'qu laa yanfa'u fil akhirati"

artinya : "meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya"

Berkata pula Abu Dzar radiyallahu anhu, salah seorang sahabat Rasullah saw :

"Zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal, akan tetapi ketika ia meyakini apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada ditangannya. Ataukah engkau lebih mengharapkan pahala dari musibah yang menimpanya dibandingkan dengan kembalinya sesuatu yang hilang darinya."

Selain itu, Zuhud diartikan pula bahwa konsistensi seseorang diatas kebenaran, entahkah ketika ia mendapat pujian atasnya ataupun mendapat celaan atasnya (Imam Al Ghazali)

Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata : 

"Zuhud adalah ketika melihat orang lain, maka orang tersebut jauh lebih baik darinya"

artinya : Ia tidak pernah memandang dirinya sebagai orang yang telah sempurna atau jauh lebih baik dari orang lain sehingga ia memandang sebelah mata kepada orang lain ataukah meremehkannya. Orang yang zuhud selalu memandang bahwa dirinya tidak luput dari kekurangan, sehingga ia pun enggan untuk berlaku sombong/angkuh kepada orang lain.

Lantas, Bagaimana seseorang bisa Zuhud?

Ibnu Qayyim Al Jauziah menjelaskan bahwa Zuhud itu ada 3 :

  1. Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dirinya itu hanyalah bayang-bayang atau khayalan yang akan lenyap
  2. Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dibelakang dunia ada negeri yang lebih baik
  3. Tidak menjadikan  ia terhalang untuk mendapatkan dunia dan adapun semangatnya untuk mengejar dunia maka ia hanya akan mendapatkan dunia pada apa yang ditakdirkan Allah kepadanya
Berkata pula Imam Hasan Al Bashri mengenai 4 kunci Zuhud itu :
  1. Aku tahu bahwa Rezeki-ku tidak akan diambil oleh orang lain, maka hatiku menjadi tenang
  2. Aku tahu bahwa Amalan-ku tidak akan dilaksanakan oleh orang lain, maka aku sibukkan diriku melakukannya
  3. Aku tahu bahwa Allah senantiasa memperhatika-ku, maka aku merasa malu melakukan maksiat kepada-Nya
  4. Aku tahu bahwa kematian senantiasa menunggu-ku, maka aku akan terus menambah amalanku hingga aku ditakdirkan bertemu dengan Allah.
Zuhud dengan apa yang ada pada manusia adalah sebagai berikut :
  1. Tidak suka meminta-minta
  2. Tidak takjub pada apa yang ditampakkan manusia
Tingkatan zuhud, ada 3 yaitu :
  1. Zuhud pada tingkatan terendah adalah zuhud pada perkara dunia, artinya walaupun ia senang pada perkara-perkara keduniaan, namun ia tetap berusaha tidak lalai pada perkara akhiratnya.
  2. Zuhud pada tingkatan pertengahan adalah zuhud dengan meninggalkan perkara keduniaan dalam rangka ketaatan kepada Allah dan mengharap yang lebih kepada-Nya.
  3. Zuhud pada tingkatan tertinggi adalah zuhud yang dimana perkara akhirat adalah sesuatu yang paling penting. Perkara dunia sudah tidak berarti lagi baginya. Artinya, entah dunia datang/tidak kepadanya, baginya itu sudah tidak penting lagi. Hal ini disebabkan oleh ketaatan yang sempurna pada diri seorang hamba.

Sunday, December 4, 2016

PENGANTAR KITAB MUSNAD : PENJELASAN MUSNAD IMAM AHMAD

By: Andi Agus Mumang, S.KM

Kitab Musnad adalah kitab yang berisi hadist-hadist Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam yang sanadnya bersambung antara perawi yang satu dengan yang lainnya atau lebih dikenal sanadnya bersambung kepada Rasulullah atau ketika perawinya mendengar hadistnya sampai akhir. Kitab musnad juga berisi kumpulan hadist-hadist berdasarkan nama-nama sahabat yang diurut sesuai dengan abjad. Namun, Kitab Musnad tidak harus selalu berdasarkan urutan abjad dari nama-nama sahabat. Terdapat 3 jenis musnad :
  1. Musnad yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat (berdasarkan abjad)
  2. Musnad berdasarkan kabilah
  3. Musnad berdasarkan urutan islamnya sahabat/posisi mereka dalam islam

Beberapa contoh kitab – kitab musnad :
  1. Musnad Abu Daud
  2. Musnad At-Toyarisi
  3. Musnad Abi Bakr bin Abi Syaibah
  4. Musnad Imam Ahmad
  5. Musnad Al Bazzar
  6. Musnad Abu Ya’la


MUSNAD IMAM AHMAD

Nama  kun’yah             : Abu Abdillah

Tahun Kelahiran          : 164 H

Tahun Wafat                 : 241 H

Usia  Wafat                   : 77 Tahun

Urutan Masnad            : Mulai dari urutan sahabat dengan gelar “Al asyara mubassyirina fil jannah

Kondisi Musnad           :

Berkata Imam Ahmad bahwa beliau mengumpulkan sebanyak lebih 700.000 hadist dalam musnad beliau dan beliau sangat memperhatikannya. Beliau mengatakan kepada kaum muslimin jikalau mereka berbeda dalam memahami suatu persoalan agama terutama hadist maka beliau menyuruh mereka kembali kepada hadist yang terdapat dalam musnad beliau.  Namun, perlu dipahami bahwa tidak mutlak bahwasanya hadist shohih hanya ada dalam musnad beliau. Belum sempat memuraja’ah apa yang beliau tulis dalam musnad-nya Allah menakdirkan kematian atas diri beliau. Dalam perkiraan sebelum hadist dalam musnad beliau dihitung jumlah yang sebenarnya terdapat 40.000 hadist. Namun, setelah dihitung ternyata hanya berjumlah 27.647 hadist. Dalam musnad beliau juga terdapat sekitar lebih dari 600 nama sahabat diluar sahabiyat. Untuk nama sahabiyat yang beliau tuliskan dalam musnad beliau ada sekitar 97 nama. Jika dikumpulkan keseluruhannya maka ada sekitar 800 sahabat. Imam Ahmad yakin akan sanad dari perawi yang terdapat dalam musnadnya dan tidak ada tuduhan pada perawinya. Tetapi meskipun demikian masih banyak dari hadist beliau yang dipertanyakan ke-shohihan-nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan terdapat derajat hadist yang dhoif dalam musnad Imam Ahmad namun tidak sampai ditemukan terdapat derajat hadist yang ma’udu (palsu).

Baca Juga :






Saturday, December 3, 2016

SYARAH PROBLEMATIKA JAHILIYAH : MEMALINGKAN DIRI DARI JALAN ALLAH


Mereka memalingkan orang-orang Mukmin dari jalan Allah. Yang dimaksud menghalang-halangi manusia untuk masuk kedalam agama Allah. Itulah pekerjaan orang-orang kafir dari dulu hingga sekarang, dari kalangan Yahudi, Nasrani,  dan orang-orang musyrik. Metode yang selalu digunakan oleh orang-orang sesat di setiap zaman dan tempat adalah memalingkan manusia dari jalan Allah. Kelompok-kelompok sesat pada saat ini sedang menempuh metode ini, mereka berusaha menyesatkan kaum Muslimin dan menarik kedalam kelompok mereka yang sesat. 

Begitu juga orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka masih tetap berusaha memalingkan kaum Muslimin dari Islam seraya berkata, “Marilah kita saling berdialog diantara kita dan mereka mengkampanyekan kebebasan beragama. Ini termasuk salah satu trik untuk memalingkan manusia dari jalan Allah. Apakah kita masih meragukan kebenaran agama kita dan kebatilan agama kalian sehingga kita perlu berdialog dengan kalian? Kami tidak ragu dengan agama kami dan kebatilan agama kalian.

Orang-orang itu, dengan iklan-iklan semacam itu, ingin mengadakan dialog antar agama dan tolong-menolong antar agama, yang tujuannya adalah memalingkan manusia dari jalan Allah. Itulah maksud dan tujuan pokok mereka. Hingga sekarang, oraqng-orang kafir tetap berusaha untuk menyesatkan orang-orang Islam, membunuh mereka, mempersempit mereka, dan menganiaya mereka supaya mereka mau berpaling dari agama Islam mereka.

Mereka mengatakan, “Mari berdialog diantara kita, mari kita saling memahami kebebasan beragama dan keyakinan”, tetapi tujuan utama mereka adalah menyerang agama dan keyakinan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan :

Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan liaah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali kafir” (QS Al Mumtahanah : 2)

Kemudian Allah berfirman :

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup” (QS Al Baqarah : 217)

Allah juga berfirman :

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (QS An-Nisa: 89)

Mereka ingin mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan dan menyamakan agama yang batil dengan agama yang benar. Tetapi tujuan utama mereka bukan ini, yang mereka inginkan adalah menghilangkan islam. Maka dari itu, mereka membunuh kaum Muslimin dan menekan mereka untuk memalingkan mereka dari agama mereka, dan menginginkan agar tiada lagi orang islam di muka bumi ini. Itulah cita-cita mereka dan itulah tujuan mereka.

Sumber : Kitab Syarah Problematika Jahiliyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab oleh Syaikh Dr. Salih bin Fauzan Al Fauzan (hal.261

Thursday, December 1, 2016

BIOGRAFI IMAM ABU DAWUD

By: Andi Agus Mumang, SKM
Beliau bernama asli Sulaiman bin Al Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syaddad bin Amar Al adzi As Sijistani. Beliau adalah seorang yang ahli dalam bidang hadist. Beliau lahir pada tahun 202 H di Sijistan. Sejak kecil beliau dikenal sangat mencintai ilmu dan senang bergaul dengan para ulama. Ketika memasuki usia remaja, beliau melakukan pengembaran meninggalkan tanah kelahirannya untuk menimbah ilmu diberbagai Negara dan bisa bermulazamah dengan banyak ulama dunia. Beberapa Negara yang beliau datangi diantaranya adalah Hijaz, Syam, Mesir, Iraq dan Khurasan. Beliau pun berulang kali mengunjungi kota Baghdad yang dikenal sebagai pusat ilmu untuk mengumpulkan hadist-hadist Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga pada saat itu telah aktif mengajar sebagai guru hadist dan juga fiqh. Bahan ajar yang beliau ajarkan berasal dari kitab yang beliau tulis sendiri.

Guru dan Murid Imam Abu Dawud 

Guru tempat beliau menimba ilmu sangat banyak. Diantaranya yang paling terkenal sebagai guru utama dari beliau adalah Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Selain itu, beliau juga berguru kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Guru beliau yang lainnya adalah Utsman bin Abi Syaibah, Utaibah bin said. Beliau juga memiliki guru khusus bernama Abu Walid At-Toyalisi.
Selain guru, beliau tentunya juga memiliki murid. Diantara murid-murid beliau yang terkenal adalah Abu Isa At-Tirmidzi, Abu Abdurrahman An-nasa’i. Kedua muridnya ini kelak juga menjadi tokoh hadist yang penting melalui karya-karya keduanya yang luar biasa dalam sejarah ilmu hadist. Murid yang lainnya adalah putra beliau sendiri bernama Abu Bakr bin Abu Dawud (kun’yah: Abdullah).

Sifat dan Kepribadian Imam Abu Dawud

Beliau rahimahullah memiliki sifat dan kepribadian sebagai ahli ibadah dan sangat menjaga kesucian dirinya. Beliau pun seorang yang sangat sholeh dan wara’. Bahkan sebagian ulama berkata bahwa Imam Abu Dawud sangat mirip watak dan sifatnya dengan Imam Ahmad. Adapun Imam Ahmad sangat mirip dengan waqi. Waqi sangat mirip dengan Sufyan bin At-sauri. Sufyan sangat mirip dengan Mansur. Adapun Mansur sangat mirip dengan Ibrahim. Ibrahim sangat mirip dengan Al qama. Sedang Al qama sangat mirip dengan Ibnu Mas’ud. Adapun Ibnu Mas’ud sangat mirip dengan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau pun punya cerita tersendiri dalam berpakaian. Abu Dawud punya baju yang lengan kiri dan kanannya berbeda, satunya sangat lebar dan satunya lagi sangat kecil. Lengan kanannya sengaja dibuat lebar agar beliau bisa menyimpan kitabnya dan melindunginya sewaktu membawanya. Adapun, yang lengan kiri dibuat dengan ukuran yang kecil dengan alasan tidak perlu untuk dilebarkan. Melebarkannya menurut beliau adalah boros kain.

Pujian Ulama terhadap Imam Abu Dawud

Pujian ulama pada beliau sangat banyak. Diantaranya beliau dipuji sebagai seorang ahli hadist, paham hadist dan paham pula terhadap kecacatan suatu hadist. Berkata seorang perawi hadist Musa bin Harun bahwasanya “Abu Dawud diciptakan untuk hadist dan diakhirat adalah surga untuknya". Dalam penyusunan kitab hadist beliau, beliau pun menuai pujian dari seorang ulama dengan berkata : “Sesungguhnya hadist telah dilunakkan bagi abu dawud, sebagaimana dilunakkannya besi bagi Nabi Daud as.” Bahkan berkata seorang ulama ahli fiqh dari mahzab hanbali bahwasanya “Abu dawud adalah seorang ulama yang sangat terkemuka di zamannya, menguasai beberapa bidang ilmu, dan tidak seorang pun yang menandinginya dimasa beliau."
Adapun terkait mahzab fiqih beliau, para ulama berbeda pendapat terkait hal ini. Berkata Abu Ishak Asy-syirazi berkata bahwa abu dawud kedalam mahzab hanbali. Hal ini dikerenakan alasan guru beliau yang paling dekat dengan beliau adalah imam ahmad bin hanbal. Adapula yang mengatakan beliau bermahzab syafi’iyyah. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa beliau tidak memiliki mahzab melainkan seorang mujtahid sendiri.

Kisah :

Sikap Abu Dawud yang memuliakan ilmu dan ulama ini dapat diketahui dari kisah yang diceritakan oleh Imam al-Khattabi dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud. Dia berkata: "Aku bersama Abu Dawud tinggal di Bagdad. Di suatu saat, ketika kami usai melakukan shalat magrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang, lalu kubuka pintu dan seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq minta ijin untuk masuk. Kemudian aku memberitahu Abu Dawud dan ia pun mengijinkan, lalu Amir duduk. Kemudian Abu Dawud bertanya: "Apa yang mendorong Amir ke sini?" Amir pun menjawab "Ada tiga kepentingan". "Kepentingan apa?" Tanya Abu Dawud. Amir mengatakan: "Sebaiknya anda tinggal di Basrah, supaya para pelajar dari seluruh dunia belajar kepadamu. Dengan demikian kota Basrah akan makmur lagi. Karena Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji."


Abu Dawud berkata: "itu yang pertama, lalu apa yang kedua?" Amir menjawab: "Hendaknya anda mau mengajarkan sunan kepada anak-anakku." "Yang ketiga?" tanya Abu Dawud. "Hendaklah anda membuat majlis tersendiri untuk mengajarkan hadits kepada keluarga khalifah, sebab mereka enggan duduk bersama orang umum." Abu Dawud menjawab: "Permintaan ketiga tidak bisa kukabulkan. Sebab derajat manusia itu, baik pejabat terhormat maupun rakyat jelata, dalam menuntut ilmu dipandang sama." Ibnu Jabir menjelaskan: "Sejak itu putra-putra khalifah menghadiri majlis taklim, duduk bersama orang umum, dengan diberi tirai pemisah".


Hikmah :



Begitulah seharusnya, ulama tidak mendatangi raja atau penguasa, tetapi merekalah yang harus mengunjungi ulama. Itulah kesamaan derajat dalam mencari ilmu pengetahuan.


Sunan Abu Dawud

Beliau menuliskan kitab hadist yang dikenal dengan nama sunan abu dawud. Kitab sunan ini berisi tentang hadist-hadist yang terkait hukum fiqh. Beliau mengumpulkan hadist-hadist yang derajatnya shohih/hasan dalam kitabnya. Adapun ketika hadist tersebut dhoif beliau jelaskan. Namun, ketika hadist tersebut beliau diamkan maka hadist tersebut boleh dijadikan hujjah. Adapun jumlah hadist dalam kitab sunan beliau sejumlah 4800 hadist. Syarah sunan abu dawud yang terkenal adalah Ma’alimu Sunan, Ainul Ma’bud ala Sunan Abu Dawud. Adapun muktasar dari kitab beliau yang terkenal adalah Muktasar Al-Mundziri yang kemudian diperbaiki oleh Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziah dan juga disyarah oleh beliau.

Imam abu dawud wafat pada 16 syawal 275 H.

URGENSI AQIDAH

By : Andi Agus Mumang, S.KM
Secara etimologi (definisi bahasa), aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti sesuatu yang mengikat (pengikatan). Sesuatu yang mengikat tersebut berasal dari apa yang diyakini oleh seseorang yang menjadikannya percaya dan membenarkan hal tersebut tanpa keraguan. Sedangkan secara terminologi (definisi istilah menurut syara’) akidah adalah apa yang termaktub dalam rukun  imam atau dengan kata lain aqidah sama dengan rukun imam. Dimulai dari keimanan kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, keimanan kepada yaumul akhir dan qada’ dan qadar Allah. Syariat ini dibangun atas dua hal yakni I’tiqadiyah dan amaliyah. Perkara I’tiqadiyah merupakan perkara yang menyangkut kepercayaan seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan perkara amal (tata cara beramal). Perkara ini murni terkait kepercayaan (aqidah) seseorang. Makanya, sering kita mendengar istilah ashliyahi (pokok agama). Adapun terkait perkara amaliyah merupakan perkara yang berhubungan dengan tata cara beramal dan merupakan bagian yang furu’ atau cabang dalam agama ini (furuiyyah). Perkara amaliyah sangat bergantung pada perkara I’tiqadiyah seseorang. Sebab perkara tersebut dibangun diatas pondasi aqidah (I’tiqadiyah). Oleh karena itu, perkara aqidah sangat memiliki peran penting bagi kelurusan dan benar-tidaknya islam seseorang berikut pula amalan seseorang. Selanjutnya, berbicara persoalan aqidah, apakah yang sebenarnya menjadi urgensi aqidah itu? Berikut diantara urgensi aqidah dalam islam :
  • Aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sah-nya suatu amalan. Hal ini Allah jelaskan dalam firmannya :

Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amalan shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan-Nya” (QS Al Kahfi : 110)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), maka niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS Az-Zumar : 65)

  • Aqidah merupakan fokus dakwah para Nabi dan Rasul. Sebagaimana firman Allah :


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap uamt (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut itu,…” (QS An Nahl : 36)

Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali taka ada tuhan bagimu selain-Nya”(QS Al A’raf : 59,65,73,85).


Demikianlah sekilas penjelasan tentang urgensi aqidah. Tentunya urgensi dari aqidah tidak hanya satu atau dua poin saja. Masih banyak poin lainnya. Namun, penulis hanya bisa menyebutkan dua diantaranya.

Referensi : Kitab Tauhid karya Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al Fauzan hafidzahullahu

Baca artikel religi lainnya disini 

Wednesday, November 30, 2016

AIR MATA...PARFUM WANGI YANG HALAL !

By : Andi Agus Mumang, S.KM
Bakar bin Abdillah Al-Muzni berkata,"Adakah yang sepertimu, wahai putra Adam? Diantaramu dan mihrab kosong, engkau boleh masuk jika engkau berkenan, dan berdoa kepada tuhan-Mu. yang ada hanyalah parfum orang-orang mukmin, air yang asin. Air mata ini! Dimanakah orang yang berwangi-wangian dengannya?"

Demikianlah, hati yang lembut nan halus basah karena mengingat Tuhannya. Air mata mengalir... menangis...karena mereka tahu hakikat kebenaran... atau karena perbuatan mereka terhadap sesamanya. Makhlul berkata, "Sehalus-halus hati manusia adalah yang paling sedikit dosanya". Disebutkan bahwa seorang pemuda dari negeri Uzd menangis, hingga penglihatannya menjadi gelap. dia dicela karenanya kemudian ia berkata :

Bukanlah orang-orang jujur mewariskan tangisan
Maka tangisan membimbingnya menuju tempat yang terpuji 
tidakkah Tuhan telah berkata : "Kemarilah hamba-Ku"
Karena segala kebaikan ada pada-Ku di tempat kembali

Demi Allah aku menangisi hari-hari dunia. Jika akhirat telah datang, maka kepada Allah aku perhitungkan bagianku dalam kekuranganku. Dimanakah orang yang menangis karena kesalahannya, kemudian mengolesi dirinya dengan parfum yang halal ini? Dimanakah orang yang menangis karena tidak taat atau karena maksiat. Renungkan belas kasih Tuhan kepadamu, kebaikan Tuhan kepadamu, maka demi Allah turunkan kesalahan dan dosa-dosamu dari punggungmu dengan taubat. Bawalah hatimu menghadap Dzat yang mengetahui alam gaib (Allam al-ghuyub). Basuhlah wajahmu dengan tetesan ait matamu. Wahai yang lupa tempat kembalinya, wahai yang berdiri diatas kekurangannya, orang-orang mulia telah mendahuluimu sementara engkau masih saja berenang dilautan lupa. Berdirilah didepan pintu sembari menyesal, tundukkan kepalamu, dan katakan, "Saya Zalim."

Panggillah diwaktu sahur orang yang berbuat dosa dan berbelas kasihlah. Serupailah dengan satu kaum sekalipun engkau bukan dari golongan mereka dan mendekatlah. Bangkitkan awan air mata yang mengalir dengan hembusan nafasmu. Berdirilah dalam kegelapan seraya berdoa. Berdirilah di depan pintu seraya bertaubat. Susullah umurmu yang telah pergi, tinggalkan permainan, tolaklah dunia jika engkau betul-betul mencari akhirat.

Orang-orang yang bertakwa boleh saja menangis... merendahkan diri... dan memperlihatkan cintanya kepada Sang Pencipta yang Mahasuci. Itulah tangisan sang penyabar yang Introspektif. Pengawal Ibrahim berkata :

Wahai orang yang meneteskan air matanya dengan penuh kelembutan
Darimulah dengan orang yang menangis dan yang sedih
Berkatilah hambamu karena airmatanya
Sesungguhnya ia adalah sebaik-baik penolong

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menangis... bercucuran air mata dengan hati yang khusyuk... tidak kami katakan kecuali yang diridhoi Tuhan kami... dan apa yang diridhoi-Nya disini... adalah perkataan orang-orang arif :"Segala puji bagi Allah, yang tidak ada yang berhak dipuji karena sesuatu yang dibenci selain-Nya"

Sumber : Saat-saat Rasulullah saw Menangis by Sa'ad Yusuf Abu Aziz

Baca artikel terkait :

DIANTARA IKHTIAR, SEBAB HIDAYAH DATANG

By : Andi Agus Mumang, S.KM

Diantara sebab hidayah datang menghampiri seorang hamba adalah karena rahmat dan taufik dari Allah subhanahu wa ta'ala yang tentunya melalui ikhtiar (usaha) dari seorang hamba yang menginginkan petunjuk (hidayah) tersebut. Diantara ikhtiar (usaha) yang menjadi sebab hidayah datang kepada seorang hamba adalah sebagai berikut :
  1. Bersandar kepada Allah dalam segala usahanya melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Artinya, dalam segala sesuatu yang diikhtiarkan oleh seorang hamba baik sesuatu itu dilakukan atau ditinggalkan semuanya disandarkan kepada Allah dan tidak menggantungkannya pada dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadistnya yang berbunyi:"(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata" (HR An-Nasa'i (6/147) dan Al Hakim (No.2000), Imam Al-Hakim menshohihkannya)
  2. Berpegang teguh pada Agama Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS Thaahaa:123 : "Maka jika datang kepadamu (wahai manusia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan akan sengsara (dalam hidupnya)". Ayat ini ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya barangsiapa mengikuti petunjuk Allah subhanahu wa ta'ala dengan senantiasa betakwa kepada-Nya, maka ia akan memperoleh petunjuk dari Allah dan dihindarkan baginya kesesatan dan kehidupan-Nya di dunia terlebih di akhirat akan terhindar dari kesengsaraan.
  3. Meneladani Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah adalah nabi yang diutus oleh Allah azza wa jalla dengan teladan yang sempurna untuk diikuti. Dirinya datang membawa petunjuk dari Allah azza wa jalla  melalui Al-Qur'an dan Sunnah yang diturunkan kepadanya. Maka tentulah, dengan meneladani dan mengikuti beliau adalah sebab diantara datangnya hidayah Allah. Allah berfirman : "Dialah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi" (QS Al Fath: 28)
  4. Tadabbur Al-Qur'an. Allah berfirman:"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar" (QS Al-Isra': 9). Imam Ibnu Katsir mengomentari ayat ini bahwasanya Allah ta'ala memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, yaitu Al-Qur'an bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas (Kitab "Tafsir Ibnu Katsir : 3/39). Maksudnya adalah tidak ada petunjuk paling lurus dan jelas melainkan Al-Qur'an. Beriman kepadanya dan senantiasa mentadabburi dan mengamalkannya, maka hal tersebut diantara sebab yang akan mengantarkan seorang hamba mendapatkan kebaikan yang sempurna dan petunjuk yang lurus dalam setiap keadaannya.

BERIKHTIARLAH DALAM MENCARI HIDAYAH

By : Andi Agus Mumang, S.KM
Hidayah adalah bagian dari taufik Allah subhanahu ta'ala yang membutuhkan usaha dan perjuangan untuk mendapatkannya. Diantara usaha seorang hamba untuk mendapatkannya adalah dengan banyak meminta kepada Allah agar diberikan hidayah, memperbaiki diri dan bersiap untuk mendapatkan hidayah dari Allah dan tentunya banyak berdoa. Karena hidayah adalah milik Allah azza wa jalla. Sebab-Nya lah seseorang dianugerahi hidayah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan dalam sebuah hadist Qudsi yang shohih, bahwasanya Allah ta'ala berfirman:

"Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk maka mintalah kepada-Ku niscaya akan Aku berikan petunjuk kepada kalian" (HR Muslim No. 2577)

Hadist diatas menjelaskan bahwa petunjuk (hidayah) merupakan jalan yang terang yang mengantarkan seseorang menuju jalan keselamatan setelah selama ini tersesat dalam kemaksiatan dan kubangan dosa. Manusia pada dasarnya berada dalam kesesatan selama ia lepas dari petunjuk (hidayah) Allah azza wa jalla. Agar dapat mendapatkan petunjuk (hidayah) dari-Nya, maka dengan kesempurnaan rahmat dan kasih sayan-Nya, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk memohon kepada-Nya agar dianugerahi hidayah, maka hal ini mengantarkan isyarat kepada kita untuk selalu bermunajat kepada-Nya agar dilimpahkan dari-Nya berupa cahaya hidayah. Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan sarana untuk kita meminta kepadanya dalam bentuk kalimat doa yang Allah sematkan dalam kalimat-Nya yang mulia dan agung di bagian awal Al-Qur'an yakni pada surah Al-Fatihah ayat : 6 yang artinya :

"Tunjukilah kami menuju jalan-Mu yang lurus

Syaikh Abdurahman as-sa'di berkata: "Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, Olehnya, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini disetiap rakaat dalam sholatnya, karena kebutuhannya akan hal tersebut sangatlah besar" (Kitab Taisiirul Kariimir Rahman: 39)

Dalam banyak hadist shohih, dikabarkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita doa memohon petunjuk kepada Allah azza wa jalla. Misalnya, dalam doa yang Rasulullah baca pada saat beliau qunut dalam sholat witir : "Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku didalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah" (HR Abu Dawud)

Olehnya, dapat kita simpulkan bahwasanya Hidayah membutuhkan usaha dan doa agar kita bisa mendapatkannya. Sebab hidayah milik Allah, dan Allah melihat diantara para hamba-Nya, siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Maka berikhtiarlah untuk mendapatkan hidayah. Wallahu a'lam.


Baca juga :

Tuesday, November 29, 2016

MOMEN TERINDAH DI KEHIDUPAN MANUSIA


By : Andi Agus Mumang, S.KM
Al Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziah pernah berkata :

"Sesungguhnya bentuk-bentuk keindahan yang diprioritaskan manusia ada 3, yaitu : Keindahan diluar diri manusia, Keindahan pada tubuh (fisik) manusia, dan Keindahan sejati"



Penjelasan :



Keindahan menurut Ibnu Qayyim terdiri dari 3 macam bentuk :


  1. Keindahan diluar diri Manusia artinya keindahan yang tidak dimiliki oleh manusia tersebut secara langsung namun diperolehnya dari luar dirinya. Keindahan seperti ini adalah keindahan yang merupakan "pinjaman" dari orang lain. Keindahan ini diperoleh dari sebab-sebab "Harta dan Kedudukan" yang sifatnya duniawi. Keindahan jenis ini dimiliki oleh orang-orang yang mencintai dunia diantaranya orang-orang kafir.
  2. Keindahan pada tubuh (fisik) Manusia, artinya keindahan yang dimiliki oleh manusia yang berasal dari dirinya sendiri (kecantikan, ketampanan, kesempurnaan fisik,dll). Pada hakikatnya keindahan seperti ini hanya keindahan yang tidak jauh berbeda dengan poin pertama. Kebanyakan manusia mengira bahwasanya keindahan ini adalah cukup bagi dirinya. Padahal ia lupa bahwa keindahan pada manusia tidak terbatas pada apa yang berada pada fisiknya saja. Namun, juga pada apa yang berada dalam ruh dan hatinya. Keindahan jenis ini dimiliki oleh orang-orang yang munafik.
  3. Keindahan yang sejati adalah keindahan yang sesungguhnya, keindahan yang semestinya menjadi impian setiap manusia yakni keindahan yang berasal dari dalam hati dan jiwanya yang dilandasi dengan ilmu dan berbuah dengan amalan sholih. Keindahan inilah yang akan membawa manusia pada keindahan yang sejati dan kekal kelak diakhirat. Dan sebaik-baik keindahan kelak diakhirat adalah, "Melihat Rabb Allah subhanahu wa ta'ala "
Baca juga :

Monday, November 28, 2016

SEKILAS TENTANG IMAM MUSLIM

By : Andi Agus Mumang, S.KM


IMAM MUSLIM memiliki nama lengkap Muslim bin al Hajjaj bin Muslim bin Khausyaz Al Qusyairi An Naisaburi dengan kun’yah beliau adalah Abul Husain. Beliau lahir di Naisabur. Adapun terkait tahun kelahiran beliau, ada khilaf diantara para ulama shirah. Ada yang mengatakan beliau lahir tahun 204 H, adapula yang mengatakan beliau lahir pada tahun 206 H. Beliau adalah seorang penuntut ilmu yang sangat bersemangat. Beliau juga sangat pintar dan sangat rajin menuntut ilmu. Diusianya yang baru beranjak remaja tepatnya diusia 12 tahun, beliau telah melakukan perjalanan ke berbagai Negara untuk menuntut ilmu. Terutama ilmu terkait hadist-hadist Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Negara yang pernah dikunjunginya adalah Hijaz (Makkah dan Madinah), Syam, Irak, dan Mesir. Guru-guru yang pernah ditemuinya adalah Yahya bin Yahya, Ishak bin Rahoyah, Muhammad bin Ihram, Said bin Mansyur, dan lain-lain. Setelah beliau berkelana jauh beliau akhirnya kembali ke Baghdad dan menetap disana pada tahun 259 H. diantara murid beliau adalah Abu Hatim Ar-Razi’, Abu Isa At-Tirmidzi. Diantara pujian ulama kepada imam muslim diantaranya :

Ibnu Sholah berkata,” Derajat beliau bagai bintang dilangit dan ilmunya menjadi hujjah.”

Abu Ali Al Husain berkata,” Tidak ada kitab yang paling shohih dibawah langit selain kitab Imam Muslim”. Terkait pernyataan ini tidak kemudian disimpulkan bahwa kitab Shohih Muslim adalah yang terbaik daripada Kitab Shohih Bukhari karya Imam Bukhari. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa kitab terbaik setelah Al-Qur'an adalah kitab Shohih Bukhari. Hanya saja perkataan ini mengunggulkan shohih muslim dari sisi penyusunannya yang memang lebih unggul dan lebih teratur ketika dibandingkan dengan Kitab Shohih Bukhari.

Diantara beberapa karya yang beliau hasilkan yang paling terkenal adalah Shohih Muslim dengan nama asli kitabnya adalah Al-Musnad  Ash-Shahih Al-Mukhtashar Minas-Sunan Bin-Naqli Al-‘Adl ‘Anil ‘Adl ‘An Rasulillah. Diantara kitab lainnya adalah kitab Al Asma wal kunan, Al Akram, Al Musnad Al Kabir min Rijal, dan Al Illal.

Beliau mengumpulkan hadist yang pernah didengarnya sejumlah 300.000 hadist. Beliau menulis kitab shohih muslim selama 15 tahun dengan jumlah hadist yang ditulisnya 12.000 hadist. Beliau mencantumkan hadist dengan hujjah, begitupun dengan mengeluarkan hadist. Metodologi penulisan hadist beliau adalah beliau tidak merawikan hadist kecuali dari perawi yang adil. Selain itu, hadist tersebut musnad, mu’tasil dan marfu’. Selain itu, dalam kitab Shohih Muslim tidak memuat seluruh hadist shohih. Karena, disebabkan beliau hanya menulis hadist yang umumnya menurut para ahli hadist shohih bukan apa yang menurut imam muslim shohih. Syarah imam muslim yang paling terkenal adalah syarah yang ditulis oleh Imam An-Nawawi yang berjudul Al Minhaj Syarah Muslim. Adapun ringkasan kitab beliau yang terkenal adalah Muktasar Al Mundziri karya Imam Al Mundziri. Beliau wafat pada Ahad Sore di Naisabur pada tahun 261 H diusianya 65 tahun.

BERHIAS DENGAN AKHLAK YANG BAIK

Ketahuilah, menghiasi diri dengan akhlak yang baik termasuk unsur-unsur ketakwaan, dan tidak sempurna ketakwaan seseorang itu kecuali dengan akhlak yang baik. Allah ta'ala berfirman :

"...(surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun diwaktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."(QS Ali Imran : 133-134)

Dalam ayat yang mulia ini Allah subhanahu wa ta'ala menganggap bahwa bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik termasuk pilar-pilar ketakwaan.

Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu? 

  • Imam Hasan Al Bashri berkata : "Akhlak yang baik itu diantaranya adalah menghormati, membantu dan menolong." 
  • Ibnul Mubarak berkata, "Akhlak yang baik adalah : berwajah cerah, melakukan yang ma'ruf dan menahan kejelekan"
  • Imam Ahmad bin Hanbal berkata : "Akhlak yang baik adalah jangan marah dan dengki"
  • Al-Imam Muhammad bin Nashr berkata bahwa sebagian ulama berkata: "Akhlak yang baik adalah menahan marah karena Allah, menampakkan wajah yang berseri kecuali kepada ahlul bid'ah dan orang - orang yang banyak berdosa, memaafkan orang yang salah kecuali dengan maksud untuk memberi pelajaran, melaksanakan hukuman (sesuai syari'at islam) dan melindungi setiap muslim dan orang kafir yang terikat janji dengan orang islam kecuali untuk mengingkari kemungkaran, mencegah kedzaliman terhadap orang yang lemah tanpa melampui batas." (iqadhul himam, hal. 279)

Apa keutamaan ahlak yang baik itu ?

Ketahuilah, diantara keutamannya adalah sebagai berikut :

Pertama : Akhlak yang baik termasuk tanda kesempurnaan iman seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam: "Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya."(Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami', No. 1241)

Kedua : Dengan akhlak yang baik, seorang hamba akan bisa mencapai derajat orang-orang yang dekat dengan Allah ta'ala, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau : "Sesungguhnya seseorang yang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamul lail"(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shohihul Jami', No. 1937)

Ketiga : Akhlak yang baik bisa menambah berat amal kebaikan seorang hamba dihari kiamat, sebagaimana sabda beliau shallahu 'alaihi wa sallam: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika diletakkan ditimbangan amal (di hari akhir) selain akhlak yang baik" (Shohihul Jami', No. 5602)

Keempat : Akhlak yang baik merupakan sebab yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga. Hal ini sebagaimana ddisabdakan Rasulullah ketika ditanya tentang apa yang bisa memasukkan seseorang kedalam surga. Beliau menjawab : "Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik" (Riyadhus sholihin)

Bagaimana memperbaiki akhlak seorang hamba?

Akhlak seorang hamba bisa menjadi baik bila mengkuti jalannya (sunnahnya) Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam sebab beliaulah yang paling terbaik akhlaknya sebagaimana dalam firman Allah :
"dan sesungguhnya engkau (wahai muhammad) berbudi pekerti yang agung"(QS Al Qalam: 4). selain itu Allah juga menegaskannya dalam surah Al-Ahzab ayat 21.

Maka, sudah seharusnya bagi setiap muslim harus :

  • Mempelajari sirah Nabawiyah (Biografi Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallami)
  • Bergaul dengan orang-orang bertakwa yang mengikuti sunnah Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam
  • Menjauhi orang yang perangainya buruk (akhlaknya buruk) 
Rasullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Seseorang itu dilihat dari agama dekatnya. karena itu lihatlah siapa teman dekatnya" (HR Tirmidzi)

Sumber : Buletin Al-Amiin Edisi 28 Agustus 2015 M di edit oleh Andi Agus Mumang, S.KM



Popular Posts